Indeks kemarin tgl 08.01.2009 mendapat tekanan jual yang besar dan mengakibatkan IHSG turun 18 point dan ditutup pada posisi 1.402,66 (-1,32%). Sentimen negatif penurunan Bursa amerika dan regional asia pada pagi harinya terutama menjadi penyebab IHSG turun.

Padahal Indeks sempat menguat tajam pada hari pertama perdagangan saham di tahun 2009 yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  pada tanggal 05 Januari 2009.

Sementara dari dalam negeri tidak ada faktor khusus tertentu kecuali prediksi penurunan ekspor dan pelambatan industri di sektor riil dan ketidakpercayaan akan aksi korporasi oleh BUMI dalam mengakuisisi tiga perusahaan yaitu PT. Dharma Henwa, Pendopo Energi dan Fajar Bumi Sakti. Hal ini menyebabkan saham BUMI turun terus pada level autorejection bawah. Berita lainya adalah bahwa tender offer Indosat akan efektif minggu depan.

Investor global terutama bereaksi terhadap laporan data ekonomi amerika seperti angka kehilangan pekerjaan yang bertambah, dan peningkatan beban utang pemerintah Amerika dalam usaha untuk mengatasi krisis keuangan ini yang mengancam ekonomi dalam tahun-tahun mendatang.

Investor global juga bereaksi terhadap outlook perusahaan – perusahaan dunia yang diprediksi merugi dalam Q4 2008 dan sampai ke Q1 2009 tanpa dapat mencegahnya.

Sementara ekonomi Amerika, Eropa dan Jepang akan mengalami masa-masa sulit dalam waktu pendek dan menengah sampai beberapa bulan mendatang, perhatian investor akan tertuju pada ekonomi China dan India selain Indonesia yang di prediksi masih bisa bertahan karena pertumbuhan ekonominya relatif lebih besar dari negara-negara maju tersebut.

Ekonomi China, India dan Indonesia dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi kawasan karena di dorong oleh domestic demand yang masih lebih baik dari negara lain. Hal ini membuat pasar modal Indonesia relatif lebih menarik daripada pasar modal negara lain.

Bagi investor dalam negeri untuk tetap optimis pada tahun 2009 akan tentu beralasan. Hanya saja investor di ingatkan untuk tetap waspada oleh karena sentimen negatif dari luar negeri masih berpengaruh besar pada pergerakan indeks ke depan. Seharusnya jika investor konfiden dengan fundamental ekonomi nasional maka sentimen tersebut tidak membuat investor takut untuk berinvestasi dengan horizon jangka menengah maupun jangka panjang.

Selain teknikal beberapa saham mengalami koreksi, atas gain yang diperoleh pada hari senin dan selasa kemarin. Dengan demikian analisis momentum saham-saham direkomendasi sell. Namun demikian trend secara keseluruhan masih bullish dari posisi akhir bulan lalu. Sehingga dengan analisis trend masih direkomendasi untuk di hold.

Dengan dua analisis teknikal ini investor tidak diharapkan untuk terlalu agresif dan mengambil posisi beli untuk horizon jangka pendek/harian, namun menunggu pelemahan harga berlanjut kemudian baru beli pada saat saham sudah ada pembalikan arah.

Investor dalam hal ini di anjurkan untuk hold pada saham-saham yang berprospek bagus terkait dengan sentimen penurunan suku bunga yang memberi angin segar pada sektor perbankan, automotif, dan property dan cost averaging atau buy on weakness pada saham-saham lain yang dianggap bagus khususnya saham-saham blue chip.

Secara umum trend kedepan selama semester pertama tahun 2009 akan masih diwarnai aksi spekulasi dengan volatilitas tinggi namun dengan trend harga menanjak. Investor dapat mengantisipasi ini dengan mulai mengumpulkan saham pada beberapa sektor dengan mengingat bahwa suku bunga akan turun lagi, pertumbuhan industri dan fundamental sektor riil masih akan tertekan, sektor dengan orientasi ekspor masih tertahan dan lain-lain. Industri dan ekonomi secara keseluruhan baru akan membaik setelah semester kedua tahun ini.

Trend pemangkasan suku bunga akan menjadi katalis valuasi saham selain pada sektor tertentu masih akan tetap tahan dan mencetak kenaikan laba didorong oleh market share produk dan service dari emitten. Fundamental ekonomi secara umum masih akan tahan terhadap goncangan sektor industri yang terkena dampak krisis keuangan dan perlambatan ekonomi global, namun sentimen negatif tertentu akan menjadi batu sandungan tingkat agresifitas investor khususnya investor asing. Namun bagi mereka yang melihat bahwa faktor resiko downturun sudah terlewati kemarin, sekarang inilah waktu yang tepat untuk mengantisipasi trend bullish di tahun-tahun mendatang dengan tingkat harga yang sangat atraktif.

by : ade diana